Kami mengolah limbah sabut kelapa pesisir menjadi cocopeat berkualitas ekspor β sambil membuka lapangan kerja dan memberdayakan petani kelapa di sekitar kami, satu karung sabut pada satu waktu.
Hijau Sabut Nusantara berdiri di pesisir Kotabaru, kawasan yang dikepung perkebunan kelapa namun limbah sabutnya selama puluhan tahun hanya menumpuk dan dibakar. Sejak 2011, kami membangun unit pengolahan kecil yang kini menjadi rumah produksi cocopeat dengan standar ekspor β tanpa meninggalkan akar kami di desa.
Lima tahap sederhana namun teliti β setiap tahap dikerjakan oleh tangan-tangan warga sekitar yang sudah terlatih selama bertahun-tahun.
Setiap minggu, truk kami berkeliling ke kebun-kebun kelapa rakyat di radius 20 km dari pabrik untuk membeli sabut dengan harga tetap β memberi petani pemasukan tambahan dari sesuatu yang dulu hanya dibuang.
Sabut digiling dengan mesin defiberizer untuk memisahkan serat panjang (dipakai untuk produk lain) dari serbuk halus yang menjadi bahan dasar cocopeat.
Serbuk sabut direndam berkali-kali untuk menurunkan kadar garam dan tanin alami yang bisa menghambat pertumbuhan akar tanaman bila tidak diolah dengan benar.
Pengeringan memanfaatkan sinar matahari pesisir yang melimpah β hemat energi, ramah lingkungan β sebelum dipress menjadi blok padat agar mudah dikirim.
Tersedia dalam bentuk blok kompak, briket, maupun karung curah β siap dikirim ke petani hortikultura, nursery, hingga eksportir media tanam.
Bukan sekadar pengganti tanah β cocopeat punya struktur yang dirancang alam untuk menahan air sekaligus memberi ruang bernapas bagi akar.
Dari kebutuhan rumah tangga hingga pengiriman kontainer β semua diolah dari batch yang sama, diuji sebelum dikemas.
Bentuk paling efisien untuk distribusi jarak jauh. Mengembang 4β5x volume setelah direndam air.
Untuk kebutuhan skala kebun atau pertanian luas yang ingin langsung pakai tanpa proses rendam.
Dicampur dengan cocopeat halus untuk meningkatkan drainase pada tanaman yang rentan akar busuk.
Kemasan kecil yang sudah dicampur kompos ringan, dirancang untuk pekebun rumahan dan pemula.
Kami percaya keberlanjutan usaha tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan orang-orang di sekitarnya. Berikut wajah-wajah yang menjadi bagian dari perjalanan kami.
Petani Kelapa Mitra
Dulu sabut kelapa cuma numpuk di belakang rumah, kadang dibakar karena mengganggu. Sekarang setiap minggu ada yang datang beli, jadi tambahan uang dapur yang lumayan buat keluarga saya.